SINGAPURA - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Asia hari ini, meskipun kegiatan pengeboran di Amerika Serikat (AS) berkurang selama empat minggu berturut-turut.
Dikutip dari Reuters, para analis menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi global lamban sebagai alasan utama rendahnya harga minyak mentah.
Industri di China pada Agustus anjlok 8,8% dibanding bulan yang sama tahun lalu, dan industri selama Januari-Agustus turun 1,9%.
Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengatakan akan merevisi ke bawah perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi global karena melambatnya pertumbuhan di negara berkembang.
Sejalan dengan sentimen bearish, minyak mentah berjangka Brent turun hampir 1% atau 45 sen menjadi USD48,15/barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) susut 1% atau 47 sen menjadi USD45,23/barel.
Minyak mentah berjangka sudah turun lebih dari 10% sejak awal bulan, dan lembaga pemeringkat S&P memangkas perkiraan harga minyak Brent dan WTI akhir pekan lalu sebesar USD5-USD50/barel dan masing-masing berada pada USD45/barel pada tahun ini. Sementara pada tahun depan, diprediksi untuk minyak Brent berada di USD55 dan USD50 untuk WTI.
Harga minyak jatuh meskipun jumlah kegiatan pengeboran di AS berkurang. Perusahaan energi AS telah memangkas rig minyak untuk minggu keempat berturut-turut pada pekan lalu karena rendahnya harga terus yang menyebabkan perusahaan-perusahaan energi mengurangi rencana pengeboran. (sindonews.com)
