Saat ini lebih dari 90 persen sekolah luar biasa (SLB) di Indonesia adalah swasta. Menurut Kepala sekolah SLB B-C Islam As-Syafi'iyah Jakarta, Andriyastuti, hal tersebut lantaran pendirian SLB yang butuh biaya tinggi.
"Pemerintah berat mendirikan SLB karena biaya tinggi, maka masyarakat seperti lewat swasta tergerak mendirikan SLB.
Kendati demikian, perempuan yang akrab disapa Andri ini menyatakan, pemerintah tak membedakan antara SLB swasta atau negeri dalam segi pendanaan.
Baca juga : Sekolah Berprestasi Terbentuk Dari Guru Berprestasi
"Perhatian pemerintah tinggi, pendanaan SLB swasta maupun negeri tidak dibedakan," terangnya.
Namun, kata Andri, terdapat satu hal yang menjadi jurang pemisah antara SLB negeri dengan swasta. Juara III kepala sekolah berprestasi nasional ini mengungkapkan, guru-guru PNS hanya ditempatkan di SLB negeri. Akibatnya, SLB swasta kerap mengalami keberatan dalam menggaji guru.
"Kalau kondisinya terus-menerus seperti ini SLB swasta yang tak kuat menggaji guru bisa gulung tikar. Oleh karena itu, perlu pemerataan bahwa guru PNS jangan di SLB negeri saja," tuturnya.
Andri sendiri menyambut positif sekolah-sekolah inklusi yang mulai dibangun pemerintah. Pasalnya, sekolah tersebut mampu meringankan beban SLB sebagai tempat mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK).
Perangkat pembelajaran : RPP SMP Kurikulum 2013"Tentu itu sangat membantu. Anak anak yang tak tertampung di SLB bisa masuk ke sekolah inklusi," ucapnya. (Sumber : okezone)